mylife

February 7, 2007

p NieYh??

Filed under: NgEbAnYoL YuKkZz - Administrator @ 1:11 am
Pengemis : Pak! Kasihani saya, saya orang bisu.
	
Bapak    : Lho? Orang bisu kok bisa berbicara?Pengemis : Eh, salah! Orang tuli, Pak!Bapak    : Kok bisa mendengar?Pengemis : Eh, bukan! Orang buta, Pak!Bapak    : (Sambil mengeluarkan uang receh)Tidak ada duit!!Pengemis : Itu ada ratusan tiga, Pak!Bapak    : Katanya buta, kok bisa melihat?Pengemis : Salah lagi. Orang gila, Pak!!

“si Doi”

Filed under: NgEbAnYoL YuKkZz - Administrator @ 1:05 am
Ada suami istri... Tengah malem suaminya teriak bangunin istrinya ,Suami: "honey.. bangun…gue dapet berkah nih….Das ist ein Wunder"Istri: "ehm apa??"Suami: "Tadi gue ke wc waktu buka pintu lampunya langsung hidup…         padahal gue belum cetekin apa?..pertama sih gue cuek aje…         E.. waktu gue udah selesai kencing mo keluar ,gue tutup pintu e..         lampunya mati sendiri..gila..besok gue mesti beli lotere.. sapa         tau itu jalan menuju kaya.."Si Istri loncat dari tempat tidur sambil ngomong…       "Gila..hon… lue kencing di kulkas lagi ya.."
	

PaNtUn iNtErnEt

Filed under: PaNtUn yUkzZ - Administrator @ 1:01 am

1) Menangkap belut dalam paya
Panas berdering mata berpinar
Ilmu banyak dialam Maya
Patutkah kita berbuat onar

2) Indahnya tukangan barangan antik
Perak permata menghiasi kayu
Klik sambungan paparan eletronik
Bacalah kita pantun Melayu

3) Sebidang kain alas berjamu
Merah bata kainnya kasa
Orang lain menambah ilmu
Adakah kita hendak menambah dosa

PaNtUn BerPiSaH

Filed under: PaNtUn yUkzZ - Administrator @ 12:59 am

1) Puteri di taman memakai gelang
Rambut berjurai bawah mahkota
Bunga idaman disambar helang
Jatuh berderai si air mata

2) Tikus berangan menjadi singa
Asah senjata atas beras
Gamat kompang perit telinga
Air mata mengalir deras

PaNtUn JeNaKa,,

Filed under: PaNtUn yUkzZ - Administrator @ 12:51 am

Jual :

Disana merak disini merak
Merak mana hendak dikepung
Disana hendak disinipun hendak
Pening kepala terajang punggung

Beli :

1.
Diumpan merak dengan dedak
Hendak ditangkap dengan segera
Di sana hendak di sinipun hendak
Tepuk dada tanyakan selera

2.

Bayan merbah merbuk dara
Terbang bebas hiasan angkasa
Jangan salah tertepuk dada
Badan terhempas mara bencana

3.

Tuan puteri di atas puri
Dato hulubalang di atas padang
Bila dinasihati dengar-dengari
Bila bertepuk pandang-pandang

Selamat Tinggal Untukmu yang Kucintai…

Filed under: SaStRa LuKzReAdZ - Administrator @ 12:48 am

Pertemuan pertama
"Eh pinjem ballpointnya, oi diomongin kok diem aja…! sekalian kertas juga"
"ye..ni minta pa ngerampok seh..?"
"he… udah thanks yachhh" ucap Yanti setelah meminta..ups tepatnya merampok ballpoint dan buku adik kelasnya untuk mencatat nomor HP teman si adik kelas.
Siang itu tepatnya setelah jam perkuliahan berakhir Yanti tak sengaja berkenalan dengannya, sebenarnya dalam hati Yanti tidak terbersit apapun namun tidak begitu dengan Dani si adik kelas.
Pertemuan kedua
"Eh dian…"
"manggil siapa Yan??"tanya Edi
"itu yang pake baju kuning"
"Ye..tu namanya Dani bukan Dian atuh neng"
"eh Dani yah, he…he..sori, Dan?" dengan setengah berlari ia naik kemotor yang dikendarai oleh Dani.
Sesaat Dani tersentak dan berkata "Apaan neh.."
"udah…anterin aq kedepan..cepetan yah, dah malem."
sambil berjalan Dani bertanya "…eh emang rumahnya dimana?"
"napa mangnya? mo nganterin?"
"nggak, biar sekalian…"
"udah disini ajah…tu angkotnya dah ada" *angkot=angkutan kota - sudako* sesaat Yanti telah turun dan menghadang angkot kearah rumahnya. "oh ya..Dan thanks yah? bye…hati2 pulangnya..?"
"loh gitu aja…" wajah Dani agak melongo saat melihat kakak kelasnya berlalu begitu saja "aneh amat sih tu cewek.."sambil tersenyum ia menghidupkan motornya dan berlalu.
Pertemuan ketiga
"Dan..temeni aq yuk??"
"Loh..aq baru nyampek nih…gak liat apa?"
"ia liat-liat, plizz penting banget"sambil mengerlingkan sebelah matanya Yanti tersenyum kearah Dani dan sepertinya Dani luluh "mau yah?"
"ya udah, yuk naik… kemana nih?"
"udah jalan aja nanti aq kasi tau" sembari Yanti naik kemotor Dani. Dani slalu menurut apapun yang dikatakan Yanti, sampai semuanya selesai Dani pun hanya diam dan menuruti langkah Yanti. "Eh thanks banget yah…"sesaat setelah Yanti sampai disimpang tempat menunggu angkotnya.
"E..e..eh bentar…donk?"
"emmphh apa? angkotnya udah ada tuh"
"mana..? ya udah deh.. Hati2 yah? 061xxxxxxxx kan?"Dani berkata sambil menstarter motornya dan beranjak pergi sebelum Yanti naik ke angkotnya.
"apa? eh tau dari mana? oi…oi…."

Setiba dirumah mama Yanti langsung bertanya "dari mana seh kok malem banget pulangnya?"
"tadi ada petemuan ma, lagipula tadi kan udah dikasih tau ke HP Uli.."
"enggak…temenmu nelpon terus tuh…"
"ehmmmpphhh siapa…? Arie..?"
"Dani.."
Kringggggggg
"Halo Asslamualaikum.."
"waalaikum salam, siapa nih?"
"ye… seharusnya aq yang nanya ni siapa…"
"jangan sewot gitu donk Non…Baru nyampe yah?"
………………………………………..
Berawal dari pertemuan pertama, kedua, ketiga hubungan keduanya dilanjutkan melalui Telpon, awalnya setiap malam Dani hanya sekedar bertanya tentang keadaan Yanti seperti "sudah makan belon? bobo`nya nyenyak pa nggak? PRnya udah dikerjain?" dsb. Hubungan ini dijalani Yanti hanya iseng2 karena ia sedang tidak akur dengan pacarnya, Tapi suatu saat Dani berkata sesuatu yang tidak asing lagi ditelinganya "sayang" kata itu hanya pernah diucapkan oleh Pacarnya, yang sudah tidak pernah lagi didengarnya.
"Yan? bisa nggak kalo Yanti manggil Dani jangan "Adek" lagi…, soalnya asing banget dengernya..?"
"Loh kamu kan adek kelasku so mau nggak mau ya harus nerima" Sebenarnya Yanti lebih muda 1 tahun dari Dani, itu karena Yanti masuk sekolahnya lebih cepet dari anak2 biasa, anak2 seusia Yanti lebih pantas duduk dibawah kelas Dani bukan sebaliknya.
"tapi Yan?, plizzz biar lebih enak aja…mo ya sayang????"
"liat entar dech…tapi jujur aja yah kakak belon terbiasa alias baru ni ngucapin begituan.."
"ya udah, biar Dani aja yang biasain entar Yanti biasain juga…Gimana?"
Semakin hari semakin sering jalur komunikasi itu digunakan, kadang kala mereka janjian untuk sampai kekampus barengan, yang nyampe duluan harus nelpon yang belon nyampe… Dari makan siang sampe pulang kerumah Yanti tidak sendiri lagi. Tapi 1 hal yang membuat Yanti heran, teman-temannya menyangka bahwa mereka pacaran tapi menurut Yanti tidak demikian. Kadang terbersit juga keinginan untuk menanyakan hubungan mereka tapi Yanti merasa takut kalau2 Dani akan berubah setelah pertanyaan itu dilontarkan "Yang penting aq sama Dani saling mengerti dan melengkapi" hal itu yang sekarang bersarang dibenak Yanti. Yanti kini menganggap Dani sebagai bagian dari dirinya dan pastinya tidak ada waktu yang terbuang tanpa kehadiran Dani, baik itu dirumah maupun saat mereka berada dikampus. Ia benar2 tidak ingin kehilangan Dani.

Namun kebahagiaan yang ada karena kehadiran Dani tidak berlangsung lama, pacar Yanti yang belakangan telah mencium sesuatu diantara Yanti dan Dani hadir kembali dikehidupan Yanti. Ia seperti ingin mendapatkan cinta Yanti kembali dan menjauhkannya dari Dani, tapi tidak demikian dengan Yanti, ia menunjukkan sikap bahwa ia telah menemukan seorang "Raja" baru pengganti pacarnya yang lama. Hubungan mereka berakhir karena pacar Yanti yang meminta, lagipula Yanti sama sekali tidak berniat untuk mempertahankan hubungan itu Ia hanya diam ketika pacarnya meminta sesuatu yang tidak pernah terbersit hadir dibenaknya. Hanya ada beberapa air yang mengalir dipipinya, entah sedih entah bahagia. Setelah kejadian itu Yanti menguatkan diri untuk tidak nampak sedih atas keputusan itu baik dihadapan mantannya maupun Dani.
Tapi disaat Yanti membutuhkan kehadiran Dani, Dani seakan-akan berlaku seperti orang asing. Saat ingin ditemui Dani seakan tidak perduli, ditelpon Dani tidak menjawab, diSMS pun tidak dibalas. Sebenarnya apa yang terjadi…????

Sampai cerita ini diturunkanpun Yanti tidak tau jawabannya, Sebenarnya Yanti ingin menanyakannya tapi ia kembali menyimpan pertanyaannya untuk kedua kali,bukan karena ia takut untuk kehilangan Dani tapi karena Ia kini telah kehilangan Dani untuk selamanya. Dani telah pergi dengan membawa cerita indah mereka dan rahasia yang hanya Dani yang mampu menjawabnya.

***Untuk ADLY****
Selamat tinggal dek, kakak disini selalu merindukanmu. Apapun yang telah ada diantara kita hanya kakak anggap sebagai ‘Kasih sayang’ antara kakak dan adiknya
Semoga Adly bahagia dialam sana. 1 hal yang kakak harapkan, jika nanti kakak menemukan Adly lagi kakak gak akan melepaskan Adly sampai kapanpun.
Kakak sayang sama Adly
***Ria***

..walking away..

Filed under: SaStRa LuKzReAdZ - Administrator @ 12:43 am

Cerpen Cinta dari anata Termenung Yuna menatap langit. Jam menunjukkan pukul 02:22 dini hari namun dirinya tak kunjung terlelap.

Mendengarkan lagu-lagu di radio lewat k750i, ia merasa lebih tenang. Didukung dengan suasana yang saat itu memang sangat tentram. Begitu damai rasanya.

Dan begitu headset sudah dipasang di kedua telinganya, Yuna menjadi terbenam dalam dunianya sendiri, lupa sejenak dengan sekitarnya.

Sambil menanti lagu-lagu nyaring membahana, Yuna membolak-balik channel.

Kadang ikut menggerakkan kaki mendengarkan alunan yang nyaring dibawakan Queen, Scorpions, Guns N’ Roses, Aerosmith, dan Fire House.

Kadang pula termenung menikmati melodi yang dialunkan begitu menghanyutkan oleh Air Supply, Bryan Adams, atau irama pop rock oleh Bon Jovi, Roxette.

Semua alunan-alunan merdu itu selalu mengiringi detik-detik lelapnya Yuna dalam malam.

Yuna memejamkan matanya, mendalami lagu-lagu tersebut mengalir menembus malam…

"But lovers always come…
And lovers always go…
And no one’s really sure…
Who’s lettin’ go today…
Walking away…"

Cerpen Cinta Dari : anata dikirim pada tanggal  28 Jan 2007 

Aku Mau Hidup Seribu Tahun Lagi, Sebuah Memori

Filed under: SaStRa LuKzReAdZ - Administrator @ 12:40 am

Aku Mau Hidup Seribu Tahun Lagi
Sebuah Memori Mengenang 55 Tahun Wafatnya Chairil Anwar

…..
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
…..
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Maret 1943

Salah satu karya puisi dari Chairil Anwar dan merupakan penggalan dari puisi “Aku” akan terus hidup dalam dunia Sastra Tanah Air, khususnya pada khasanah puisi Indonesia. Melalui karya-karyanya, Chairil telah membuktikan kebenaran kata-kata pada puisinya “Aku mau hidup seribu tahun lagi”. Para pecinta dan pegiat sastra di seluruh tanah air tidak akan pernah bosan dengan karya-karya yang telah dilahirkan oleh penyair, yang mempunyai julukan “si binatang jalang” ini. Karya-karya puisinya yang bagus dan bermutu tinggi menjadikan Chairil menjadi begitu terkenal, yang melebihi banyak penyair dan sastrawan—seangkatan dan sesudahnya—yang lain. Chairil Anwar yang namanya menjadi melegenda sepanjang sejarah kesusastraan Indonesia, sebagai pelopor “Angkatan 45”. Bahkan, penulis sekaligus sutradara, Sjuman Djaya yang kagum terhadap semangat penyair besar ini, ingin mewujudkannya dalam bentuk sinema. Namun, niatnya ini tidak pernah menjadi nyata karena beliau meninggal dunia akibat sakit. Yang masih tersisa adalah skenario yang dibukukan dan kemudian menempatkan Sjuman Djaya pada jajaran seniman besar Indonesia.

Chairil Anwar yang lahir di Medan 26 Juli 1922, memang bukan sosok yang mempunyai latar belakang pendidikan dari sastra, namun dengan tekad yang kuat dan bekerja tidak setengah-setengah atas sesuatu yang telah dipilihnya, ia menjadikan kesusastraan sebagai pilihan hidupnya dan mengolah pilihan itu menjadi sesuatu yang sangat berharga. Ironisnya, ia tidak sempat melihat dan menikmati bahwa karya-karyanya telah sangat berhasil karena ajal telah menjemputnya pada usia yang relatif masih muda, yaitu 27 tahun, tepatnya 28 April 1949.

Ayahnya bernama Toeloes berasal dari Payakumbuh (Taeh, Kabupaten Limo Puluah Koto, Sumatera Barat) dan ibunya bernama Saleha yang berasal dari Koto Gadang, Bukittinggi, Sumatera Barat. Semasa remajanya, Chairil bersekolah Belanda HIS (Hollands Inlandsche School) di Medan dan hanya sampai kelas dua saja ketika ia melanjutkan sekolahnya ke MULO (Meer Uietgebred Lager Onderwijs, setingkat Sekolah Menengah Pertama) karena pindah ke Jakarta mengikuti ibunya, yang saat itu telah bercerai dari sang ayah.

Chairil merupakan seorang pembaca yang sungguh luar biasa, pembaca maniak atau kutu buku. Kesehariannya sebagai pelahap buku menjadikannya mempunyai banyak pengetahuan, yang ditunjang juga dengan penguasaannya terhadap bahasa asing. Chairil yang menguasai tiga jenis bahasa, yaitu bahasa Belanda, Jerman, dan Inggris dapat memperoleh informasi dari pihak pertama. Yang kemudian mengantarkannya pada karya-karya sastra dunia, seperti Rilke, Hemingway, Steinbeck, Andre Gide, W.H Anden, Conrad Aiken, John Conford, Hsu Chih Mo, Arcibald Mac Leish, Willem Elsschot, H. Marsman, Edgar du Peron, dan J. Slauerhoff. Hingga muncul penilaian miring bahwa Chairil seorang plagiator. Kemaniakkan membaca menyebabkannya suka mencuri buku. Chairil yang pernah mencoba mencuri buku karya Friedrich Nietzsche yang berjudul Also Sprach Zarathustra dari sebuah toko buku, tetapi ternyata yang terambil adalah kitab Injil. Peristiwa ini diceritakan oleh Asrul Sani sebagai teman dekat Chairil, yang sama-sama hobi membaca.

Bersama Asrul Sani dan teman-temannya Angkatan 45 pula, Chairil membuat pernyataan melalui Surat Kepercayaan Gelanggang, yang berbunyi:

“Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang banyak dan pengertian rakyat bagi kami adalah kumpulan campur-baur dari mana dunia baru yang sehat dapat dilahirkan.

Keindonesiaan kami tidak semata-mata karena kulit kami yang sawo matang, rambut kami yang hitam atau tulang pelipis kami yang menjorok ke depan, tetapi lebih banyak oleh apa yang diutarakan oleh wujud pernyataan hati dan pikiran kami.

Kami tidak akan memberi kata ikatan untuk kebudayaan Indonesia, kami tidak ingat akan melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat. Kebudayaan Indonesia ditetapkan oleh kesatuan berbagai-bagai rangsang suara yang disebabkan oleh suara yang dilontarkan kembali dalam bentuk suara sendiri. Kami akan menentang segala usaha yang mempersempit dan menghalangi tidak betulnya pemeriksaan ukuran nilai.

Revolusi bagi kami ialah penempatan nilai-nilai baru atas nilai-nilai usang yang harus dihancurkan. Demikian kami berpendapat, bahwa revolusi di tanah air kami sendiri belum selesai.

Dalam penemuan kami, kami mungkin tidak selalu asli; yang pokok ditemui adalah manusia. Dalam cara kami mencari, membahas, dan menelaahlah kami membawa sifat sendiri.

Penghargaan kami terhadap keadaan keliling (masyarakat) adalah penghargaan orang-orang yang mengetahui adanya saling pengaruh antara masyarakat dan seniman.”

Dari Surat Kepercayaan Gelanggang itu, dapat dilihat bagaimana kedudukan mereka sebagai ahli waris kebudayaan dunia, ketidakterikatan untuk kebudayaan Indonesia, pandangan mengenai Keindonesiaan; penolakan atas pengertian kebudayaan nasional sebagai tindakan menghilangkan kebudayaan lama yang usang dan lapuk dan menempatkan ekspresi diri mereka di tengah lingkungan masyarakat. Hal-hal tersebut masih menjadi suatu tantangan bagi pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan di Indonesia. Namun, Surat Kepercayaan Gelanggang baru dimuat pada Majalah Siasat, 22 Oktober 1950, kurang lebih setahun setelah Chairil Anwar meninggal.

Kumpulan puisinya yang terkenal antara lain “Kerikil Tajam dan Yang Terhempas dan Yang Putus” (1949), “Deru Campur Debu” (1949), Antoloogi “Tiga Menguak Takdir” (1950) kerjasama dengan Asrul Sani dan Rivai Apin, dan “Aku ini binatang Jalang” (1986). Sajak-sajaknya yang lain dihimpun H.B Jassin dalam “Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45” (1956). Selain menulis puisi, Chairil juga banyak menerjemahkan karya-karya sastra dari para sastrawan Eropa. Karya-karya Chairil pun telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman.

Setiap tahun—pada hari meninggalnya—Chairil selalu dikenang sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap karya-karyanya pada khasanah kesusastraan Indonesia. Bahkan, Dewan Kesenian Jakarta memberikan hadiah anugerah sastra kepada para sastrawan dan penyair dengan nama Anugerah Sastra Chairil Anwar. Chairil sebagai sosok penyair pendobrak zaman, melalui pikiran-pikirannya yang luar biasa dapat membuka jalan menuju ekspresi bahasa yang menembus imaji pembaca.

Tidak terasa sudah 55 tahun sosok penyair yang mengagumkan ini, meninggalkan kita. Namun, karya-karyanya tetap harum dan bergema juga mengantarkannya menjadi salah satu sosok penyair yang luar biasa. Semoga khasanah Sastra Indonesia akan selalu ditumbuhi karya-karya yang—bukan—seperti Chairil Anwar, melainkan semangat perjuangannya. Sastra—selalu—membuat manusia lebih arif dan bijak. Selamat jalan, kuda binal yang berlari menuju pasir-pasir perak pada pantai yang tak bertepi.

…..
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…

(Sajak Putih)

Bandung, 28 April 2004

Mimpi Terindah Sebelum Mati

Filed under: SaStRa LuKzReAdZ - Administrator @ 12:39 am

Sunday, June 26, 2005

Cerpen Maya Wulan

RAMADHANI, sekalipun sedang sekarat, aku masih ingat dengan ucapanku pada suatu kali. Di satuan waktu yang lain, berkali-kali kukatakan kelak aku akan lebih dulu pergi darimu. "Mati muda," kataku datar. Dan kau selalu saja mengunci mulutku dengan cara mencium bibirku. Memutus kata-kataku yang menurutmu tidak pantas. Hanya saja pada satu waktu, sebelum akhirnya kita harus berpisah untuk meluncur dihembuskan ke perut bumi, kau sempat menampar pipi kiriku ketika lagi-lagi aku mengulang kalimat tentang kematian itu. Tidak ada lagi ciuman seperti biasanya. Aku berpikir mungkin kau sudah tak bisa bersabar menghadapiku. Atau kau terlalu takut? Padahal aku sudah begitu sering bicara tentang daun yang bertuliskan namaku di ranting pohon itu. Bahwa dia, kataku, sedang menguning dan beranjak kering untuk kemudian bersegera gugur. Usianya sangat pendek, tidak akan sampai menyaingi usia kita di sana.

Tetapi kemudian kita bertemu lagi di tempat yang kita sebut kehidupan. Hanya saja situasi yang ada sangat berbeda. Kita masih seusia, tetapi tidak bisa dikatakan sebagai seorang yang dewasa. Bicara saja kita masih tidak tertata rapi. Ke sana kemari, khas bahasa anak-anak. Semua sangat berbeda dengan apa yang pernah kita lalui bersama di satuan waktu yang lampau. Sebelum kita berdua tertiupkan ke alam ini.

NAFASKU terpatah-patah. Aku merasa sangat lelah. Seperti seorang perempuan renta yang sedang menunggu masa tutup usia. Berjalan hanya dalam khayal yang sesungguhnya kedua kaki tak pernah melangkah kemana pun. Tapi aku memang belum tua. Meski juga tak bisa berlari-lari. Aku hanya terus berbaring dan berbaring. Sejak kepergian ayahku ke surga. Mataku masih menampung sekian banyak buliran bening yang belum mendapat giliran untuk tumpah. Aku terlanjur tertidur. Dan kini, aku bermimpi.

Ayahku berdiri dalam nuansa yang begitu lembut namun terkesan asing bagiku. Aku mencoba memanggilnya, tetapi suaraku tersumbat di tenggorokanku yang kering. Sudah lama sekali aku tidak minum air lewat mulutku. Hanya selang infus itu yang terus menembus tangan kananku selama ini. Ayahku begitu sunyi, seolah tak melihat kehadiranku di sini. Barangkali debur rindu di dadaku yang membuncah tak cukup keras untuk menjadi tanda keinginanku bertemu dengannya?

Aku melihat lagi gambaran ketika ayahku meninggalkanku dan ibuku. "Ayah harus ke luar negeri," kata ibuku padaku suatu malam.

"Untuk apa?" tanyaku.
"Untuk bekerja," sahut ayahku. "Ayah janji tidak akan pergi lama. Kau bisa menandai hari dengan terus mencoreti setiap penanggalan di kalender meja kerja ayah. Setiap hari. Dan tanpa kau sadari, ayah sudah akan kembali di sini."

Aku memasang wajah tak percaya, "Ayah janji?"
Ayahku mengangguk mantap. Ibuku tersenyum melihat tingkahku. Dan aku mengantarkannya ke bandara dengan berat hati.

Selanjutnya, aku disibukkan dengan mencoreti kalender milik ayahku. Tetapi ayahku pergi begitu lama. Sampai aku kelelahan menunggu dan mulai malas mencoreti kalender seperti yang pernah diminta ayah. Aku mulai menangis dan marah pada ibuku, juga semua orang. Tubuhku melemah karena aku selalu menolak makanan bahkan minuman. Aku enggan bicara, termasuk pada teman sepermainanku, Ramadhani. Sampai suatu hari ibuku mengatakan kalau ayahku tidak akan pulang lagi. "Ayah sudah terbang ke surga," katanya.

Sejak itu aku sangat membenci angka-angka. Aku benci penanggalan dan tidak mau melihat kalender terpajang di rumah. Aku benci menghitung sesuatu. Aku juga mulai suka melukai diriku sendiri. Hingga akhirnya aku jatuh sakit dan harus terbaring di rumah sakit yang bagiku baunya sangat tidak enak.

Bayangan ayahku dan nuansa lembut itu perlahan-lahan memudar. Aku mencari-cari dan menajamkan pandanganku, tetapi percuma. Di hadapanku, suasana berganti menjadi demikian putih dan rapat oleh kabut tebal yang mengeluarkan hawa dingin. Satu sosok laki-laki dewasa tampak berjalan menembus kabut menuju padaku. Tubuhnya jauh lebih tinggi dariku. Dia tersenyum dan menggandeng tanganku. Kulit tangannya terasa begitu halus di telapakku.

Sambil mengajakku untuk duduk, laki-laki itu bercerita tentang langit dan menyebut-nyebut surga. Aku teringat pada ayahku dan bertanya kepada laki-laki di sebelahku, "Apa ayahku ada di sana?"

"Benar," jawabnya.
"Di mana?"
"Di langit ke tujuh."
"Apa kita bisa ke sana?" tanyaku tak sabar.
"Kelak kita akan ke sana. Tapi, ada syaratnya."
"Apa syaratnya?" sahutku semangat.
"Kau terlebih dulu harus bisa menghitung jumlah langit itu. Kalau tidak, kau tidak akan bisa sampai ke tempat ayahmu. Karena kau akan tersesat."

"Kalau begitu lupakan! Aku tidak mau menghitung. Aku benci angka-angka!" aku berteriak.
"Di langit, kau juga bisa menghitung bintang-bintang."
"Aku tidak mau menghitung langit atau apa pun."
"Percayalah, kau akan menyukainya."
"Untuk apa aku menghitung bintang-bintang?"
"Mungkin di sana ayahmu juga sedang menghitung bintang-bintang."
"Benarkah?"

Laki-laki itu mengangguk. Aku memeluknya tanpa ragu-ragu. Suasana begitu hening mengurung kami berdua. Aku menyandarkan kepalaku ke dada laki-laki itu. Tidak ada suara apa pun di tempat ini, kecuali detak jantungku sendiri. Degup yang sudah cukup lama ini terasa sangat lemah. Aku menikmati detak jantungku yang menjelma nada indah tersendiri bagiku.

"Apa kita bisa menghitung suara ini?" kataku menunjuk bunyi jantungku.
"Ya, tentu. Hitunglah. Akan sangat menyenangkan kalau kita menghitung sesuatu yang kita sukai."
"Apa suara ini akan selalu berbunyi selamanya?"
"Tidak. Dia akan berhenti, kalau kau sudah mati."
"Mati? Pergi ke surga, seperti ayahku? Begitukah?"
"Ya."
"Kalau aku mati, apa aku bisa bertemu ayahku?"
"Tentu saja."
"Aku ingin sekali suara ini berhenti berbunyi," kataku pelan.
"Ibumu akan bersedih jika kau meninggalkannya," jawab laki-laki itu.

"Jangan beritahu ibuku kalau aku mati. Berjanjilah untuk diam. Seperti yang dilakukan ibu padaku dulu, ketika ayah meninggalkan kami."
"Bagaimana dengan temanmu, Ramadhani?"

Aku terhenyak. Ramadhani? Ah, aku melupakannya. Apa aku tega meninggalkannya begitu saja? Tapi…bukankah aku sudah mengatakan hal ini kepadanya dulu, di satuan waktu yang lain? Tentu dia akan mengerti.
Aku baru saja akan mengatakan pada laki-laki itu bahwa Ramadhani akan baik-baik saja jika harus kutinggalkan, tetapi dia telah lenyap dari pandanganku. Aku tidak lagi berada dalam pelukannya. Suasana yang putih berkabut kini berganti dengan taman yang sangat indah dan penuh bunga. Aroma wangi dari kelopak-kelopak yang bermekaran memenuhi tempat yang belum pernah sekalipun kutemui ini.
Saat itu, di kejauhan, aku kembali melihat sosok ayahku berdiri sendiri. Kali ini dia menatap ke arahku dan tersenyum. Aku membalas senyumannya dengan berjalan menujunya. Tetapi pandanganku mendadak mengabur. Aku berjalan terus sampai semuanya semakin tak terlihat olehku. Aku menghentikan langkahku dengan rasa kecewa.
Aku teringat pada teman kecilku. Ramadhani, kalau setelah ini aku harus pergi, maka semua yang kulihat barusan akan menjadi satu mimpi terindah sebelum matiku. Kataku dalam hati.

AKU lihat kau duduk di samping pembaringanku. Matamu teduh tetapi berkaca-kaca. Ruangan rumah sakit ini lebih tampak seperti kamar mayat. Dingin, sepi, dan jiwa-jiwa yang beku. Aku masih tertidur. Sesekali berteriak menyapamu, tetapi kau tak mendengarku. Mimpi yang kulihat masih tersisa dengan kaburnya. Kau takkan percaya, Ramadhani, aku bertemu ayahku dalam mimpiku.

Aku teringat dunia yang lain. Waktu kau, Ramadhani, menciumi bibirku ketika aku bicara tentang mati. Tapi kini kau tampak sedikit berbeda. Wajahmu terlihat sangat ketakutan seolah sedang menonton opera kematian. Dan, ah, Ramadhani, lihat! Ayahku datang lagi. Mimpiku jelas kembali. Dengan cepat aku menenggelamkan diri di gambaran mimpiku.

Di belakangku, ayahku merentangkan tangannya untukku. Dadaku penuh rasa rindu yang tak tertawar lagi. Dan…di arah yang berlawanan, "Hei, itu kau, Ramadhani. Kau juga di sini?" tanyaku. Tapi kau diam. Kaku. Tak lama kemudian kau memanggil namaku dengan sangat pelan. Nyaris tak terdengar olehku. Sebenarnya kau mau aku datang padamu atau tidak?

Aku tak bisa memilih. Antara ayahku dan kau, dalam mimpiku. Napasku sudah total terengah-engah. Ini melelahkan, Ramadhani. Tetapi juga menyenangkan. Pengalaman unik yang tak bisa sembarangan diceritakan. Aku yakin sekali ini jauh lebih menarik daripada menghitung langit atau bintang.

Kemudian semua terpastikan. Seseorang di atas kepalaku, menarik sesuatu dari tubuhku. Ada yang terlepas dengan begitu lekas. Sangat cepat, tetapi sempat membuatku tercekat.

Aku lupa semua mimpiku. Tiba-tiba ayahku sudah memelukku dengan eratnya. Sementara kau menangis di pelukan ibuku, di ujung pembaringanku. Dokter mencabut selang infusku. Aku berteriak untukmu, "Aku akan merindukan ciumanmu, Ramadhani." Tapi lagi-lagi kau tak dapat mendengarku, melainkan hanya terus menangis. ***

Sidoarjo-Yogyakarta, 2004-2005

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King