mylife

February 7, 2007

Aku Mau Hidup Seribu Tahun Lagi, Sebuah Memori

Filed under: SaStRa LuKzReAdZ - Administrator @ 12:40 am

Aku Mau Hidup Seribu Tahun Lagi
Sebuah Memori Mengenang 55 Tahun Wafatnya Chairil Anwar

…..
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
…..
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Maret 1943

Salah satu karya puisi dari Chairil Anwar dan merupakan penggalan dari puisi “Aku” akan terus hidup dalam dunia Sastra Tanah Air, khususnya pada khasanah puisi Indonesia. Melalui karya-karyanya, Chairil telah membuktikan kebenaran kata-kata pada puisinya “Aku mau hidup seribu tahun lagi”. Para pecinta dan pegiat sastra di seluruh tanah air tidak akan pernah bosan dengan karya-karya yang telah dilahirkan oleh penyair, yang mempunyai julukan “si binatang jalang” ini. Karya-karya puisinya yang bagus dan bermutu tinggi menjadikan Chairil menjadi begitu terkenal, yang melebihi banyak penyair dan sastrawan—seangkatan dan sesudahnya—yang lain. Chairil Anwar yang namanya menjadi melegenda sepanjang sejarah kesusastraan Indonesia, sebagai pelopor “Angkatan 45”. Bahkan, penulis sekaligus sutradara, Sjuman Djaya yang kagum terhadap semangat penyair besar ini, ingin mewujudkannya dalam bentuk sinema. Namun, niatnya ini tidak pernah menjadi nyata karena beliau meninggal dunia akibat sakit. Yang masih tersisa adalah skenario yang dibukukan dan kemudian menempatkan Sjuman Djaya pada jajaran seniman besar Indonesia.

Chairil Anwar yang lahir di Medan 26 Juli 1922, memang bukan sosok yang mempunyai latar belakang pendidikan dari sastra, namun dengan tekad yang kuat dan bekerja tidak setengah-setengah atas sesuatu yang telah dipilihnya, ia menjadikan kesusastraan sebagai pilihan hidupnya dan mengolah pilihan itu menjadi sesuatu yang sangat berharga. Ironisnya, ia tidak sempat melihat dan menikmati bahwa karya-karyanya telah sangat berhasil karena ajal telah menjemputnya pada usia yang relatif masih muda, yaitu 27 tahun, tepatnya 28 April 1949.

Ayahnya bernama Toeloes berasal dari Payakumbuh (Taeh, Kabupaten Limo Puluah Koto, Sumatera Barat) dan ibunya bernama Saleha yang berasal dari Koto Gadang, Bukittinggi, Sumatera Barat. Semasa remajanya, Chairil bersekolah Belanda HIS (Hollands Inlandsche School) di Medan dan hanya sampai kelas dua saja ketika ia melanjutkan sekolahnya ke MULO (Meer Uietgebred Lager Onderwijs, setingkat Sekolah Menengah Pertama) karena pindah ke Jakarta mengikuti ibunya, yang saat itu telah bercerai dari sang ayah.

Chairil merupakan seorang pembaca yang sungguh luar biasa, pembaca maniak atau kutu buku. Kesehariannya sebagai pelahap buku menjadikannya mempunyai banyak pengetahuan, yang ditunjang juga dengan penguasaannya terhadap bahasa asing. Chairil yang menguasai tiga jenis bahasa, yaitu bahasa Belanda, Jerman, dan Inggris dapat memperoleh informasi dari pihak pertama. Yang kemudian mengantarkannya pada karya-karya sastra dunia, seperti Rilke, Hemingway, Steinbeck, Andre Gide, W.H Anden, Conrad Aiken, John Conford, Hsu Chih Mo, Arcibald Mac Leish, Willem Elsschot, H. Marsman, Edgar du Peron, dan J. Slauerhoff. Hingga muncul penilaian miring bahwa Chairil seorang plagiator. Kemaniakkan membaca menyebabkannya suka mencuri buku. Chairil yang pernah mencoba mencuri buku karya Friedrich Nietzsche yang berjudul Also Sprach Zarathustra dari sebuah toko buku, tetapi ternyata yang terambil adalah kitab Injil. Peristiwa ini diceritakan oleh Asrul Sani sebagai teman dekat Chairil, yang sama-sama hobi membaca.

Bersama Asrul Sani dan teman-temannya Angkatan 45 pula, Chairil membuat pernyataan melalui Surat Kepercayaan Gelanggang, yang berbunyi:

“Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang banyak dan pengertian rakyat bagi kami adalah kumpulan campur-baur dari mana dunia baru yang sehat dapat dilahirkan.

Keindonesiaan kami tidak semata-mata karena kulit kami yang sawo matang, rambut kami yang hitam atau tulang pelipis kami yang menjorok ke depan, tetapi lebih banyak oleh apa yang diutarakan oleh wujud pernyataan hati dan pikiran kami.

Kami tidak akan memberi kata ikatan untuk kebudayaan Indonesia, kami tidak ingat akan melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat. Kebudayaan Indonesia ditetapkan oleh kesatuan berbagai-bagai rangsang suara yang disebabkan oleh suara yang dilontarkan kembali dalam bentuk suara sendiri. Kami akan menentang segala usaha yang mempersempit dan menghalangi tidak betulnya pemeriksaan ukuran nilai.

Revolusi bagi kami ialah penempatan nilai-nilai baru atas nilai-nilai usang yang harus dihancurkan. Demikian kami berpendapat, bahwa revolusi di tanah air kami sendiri belum selesai.

Dalam penemuan kami, kami mungkin tidak selalu asli; yang pokok ditemui adalah manusia. Dalam cara kami mencari, membahas, dan menelaahlah kami membawa sifat sendiri.

Penghargaan kami terhadap keadaan keliling (masyarakat) adalah penghargaan orang-orang yang mengetahui adanya saling pengaruh antara masyarakat dan seniman.”

Dari Surat Kepercayaan Gelanggang itu, dapat dilihat bagaimana kedudukan mereka sebagai ahli waris kebudayaan dunia, ketidakterikatan untuk kebudayaan Indonesia, pandangan mengenai Keindonesiaan; penolakan atas pengertian kebudayaan nasional sebagai tindakan menghilangkan kebudayaan lama yang usang dan lapuk dan menempatkan ekspresi diri mereka di tengah lingkungan masyarakat. Hal-hal tersebut masih menjadi suatu tantangan bagi pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan di Indonesia. Namun, Surat Kepercayaan Gelanggang baru dimuat pada Majalah Siasat, 22 Oktober 1950, kurang lebih setahun setelah Chairil Anwar meninggal.

Kumpulan puisinya yang terkenal antara lain “Kerikil Tajam dan Yang Terhempas dan Yang Putus” (1949), “Deru Campur Debu” (1949), Antoloogi “Tiga Menguak Takdir” (1950) kerjasama dengan Asrul Sani dan Rivai Apin, dan “Aku ini binatang Jalang” (1986). Sajak-sajaknya yang lain dihimpun H.B Jassin dalam “Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45” (1956). Selain menulis puisi, Chairil juga banyak menerjemahkan karya-karya sastra dari para sastrawan Eropa. Karya-karya Chairil pun telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman.

Setiap tahun—pada hari meninggalnya—Chairil selalu dikenang sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap karya-karyanya pada khasanah kesusastraan Indonesia. Bahkan, Dewan Kesenian Jakarta memberikan hadiah anugerah sastra kepada para sastrawan dan penyair dengan nama Anugerah Sastra Chairil Anwar. Chairil sebagai sosok penyair pendobrak zaman, melalui pikiran-pikirannya yang luar biasa dapat membuka jalan menuju ekspresi bahasa yang menembus imaji pembaca.

Tidak terasa sudah 55 tahun sosok penyair yang mengagumkan ini, meninggalkan kita. Namun, karya-karyanya tetap harum dan bergema juga mengantarkannya menjadi salah satu sosok penyair yang luar biasa. Semoga khasanah Sastra Indonesia akan selalu ditumbuhi karya-karya yang—bukan—seperti Chairil Anwar, melainkan semangat perjuangannya. Sastra—selalu—membuat manusia lebih arif dan bijak. Selamat jalan, kuda binal yang berlari menuju pasir-pasir perak pada pantai yang tak bertepi.

…..
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…

(Sajak Putih)

Bandung, 28 April 2004

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://lukzdewe.blogsome.com/2007/02/07/aku-mau-hidup-seribu-tahun-lagi-sebuah-memori/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King